Jumat, 06 Mei 2016

"Either write something worth reading or do something worth writing" Benjamin Franklin

Sabtu, 14 November 2015

Sebuah refleksi di masa transisi (part 2)



“Allah tidak pernah menjanjikan bahwa langit selalu biru, bunga selalu mekar, dan matahari selalu bersinar. Namun Ia selalu memberi pelangi di setiap badai, senyum di setiap air mata, berkah di setiap cobaan, dan jawaban di setiap doa”, Anonymous.
Sederhana namun syarat makna. Begitulah yang saya rasakan ketika pertama kali mendapat pesan tersebut di sebuah group whatsapp yang berisikan perempuan-perempuan tangguh nan shalihah. Kepala mengangguk, mengiyakan setiap makna yang tersirat dalam untain kata tersebut.
          Bahwa masa-masa sulit, masa-masa tersesat dan kehilangan arah tujuan, akan segera sirna.  Seiring berjalannya waktu, seiring dengan usaha dan kerja keras, seiring dengan semangat dan kemauan yang tak pernah padam, pada akhirnya semua akan bermuara pada kalimat tahmid, Alhamdulillah.
        Puji syukur Alhamdulillah, Allah masih memberi saya waktu untuk menyelami setiap hikmah dan mensyukuri setiap nikmat yang Ia titipkan untuk saya. Dan melalui tulisan ini, saya ingin sedikit berbagi tentang secuil pengalaman di masa transisi, yang sebelumnya juga sudah saya tuliskan di sini “Sebuah refleksi di masa transisi (part 1)”.
       Satu, dua, tiga bulan pertama, dunia kerja membuat saya jenuh. Hari-hari yang saya jalani terasa begitu membosankan dan mencekam. Serasa ini bukan dunia saya! Saya ingin lari dari kenyataan, saya ingin berhenti berjuang di kota metropolitan. Pilihan untuk kembali ke tanah kelahiran pun juga datang bersamaan, iya saat itu, kebetulan saya ditawari untuk mengabdi di sebuah rumah sakit swasta di daerah kelahiran saya. Terlebih, Ibu dan Bapak saya, walaupun sebenarnya cukup toleran dan sangat supportif pada pilihan anaknya, sedikit banyak masih berharap saya untuk bisa kembali ke kampung halaman, minimal mengabdi di Jawa Timur (Surabaya), agar bisa berkumpul dengan keluarga, katanya. Mungkin, ini juga yang dirasakan oleh banyak perantau yang berstatus freshgraduate, antara menetap di ibu kota atau kembali ke kampung halaman, adalah hal yang cukup merisaukan dan butuh dipertimbangkan dengan matang.
        Entah, saya juga heran, bagaimana saya bisa tetap bertahan di sini, di dunia yang cukup baru buat saya. Bagi seorang sarjana kesehatan masyarakat yang backgroundnya / peminatannya adalah kesehatan lingkungan, sangat tidak familiar untuk memahami istilah istilah ekonomi kesehatan, apalagi istilah klinis-medis. Economic Modelling dan meta-analysis saja saya belum kenal saat itu, hehe. Bagaimana saya bisa amanah? Bagaimana saya bisa selesaikan ini semua? Haruskah belajar dari 0, memulai semuanya dari awal? Saya bergumam diri, dengan pertanyaan-pertanyaan ini.
        Suatu saat, saya bertemu dengan salah seorang professor yang juga terjun dalam bidang kerja yang saya tekuni. Tanpa disangka, beliau adalah seorang ahli ekonomi kesehatan yang ternyata awalnya juga menempuh S1 kesehatan lingkungan. Dari professor tersebut, saya belajar bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, jika ada kemauan. Tapi sepertinya, Professor tersebut memang pada dasarnya luar biasa pintar dan cerdas. Sehingga mungkin, sangat amat cepat beradaptasi. Beliau juga ternyata adalah seorang mantan MAPRES FKM. Sedangkan saya? Kemampuan saya biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa, sehingga konsekuensinya adalah harus berusaha lebih extra, harus berdoa lebih sering, agar diberi kemudahan olehNya untuk menjalani setiap amanah.
      Betul, pertolongan Allah itu bisa datang dari hal yang tak diduga dan dari arah yang tak disangka. Sungguh, Ia tidak akan memberi beban kepada hambaNya di luar batas kemampuan hambaNya. Hari demi hari, secara perlahan, sedikit demi sedikit, ilmu baru dapat saya resapi dan praktikkan. Tentu, semua ini juga tidak terlepas dari orang-orang terbaik di samping saya, yang banyak memberikan saya pembelajaran dan upgrading diri, diantaranya yaitu, seorang dokter dan seorang master PH yang cantik, cerdas, nan berkarakter, dr Levina dan Mbak Septiara. Yup, saya banyak belajar dari mereka :).
       Semua menjadi berbeda tatkala kita mulai menikmati apa yang kita kerjakan. Sungguh menyenangkan, jika kita mengerti “value behind it”  yang bisa kita petik dari apa yang kita lakukan. Saat ini, saya mencoba untuk kembali memupuk mimpi-mimpi yang sempat terpendam, membangun kembali pundi-pundi ambisi yang sempat melapuk.
        Karena saya sangat tertarik dalam bidang public health research dan dunia akademisi, saya memilih untuk kembali membaurkan diri di kegiatan-kegiatan yang bisa meningkatkan kapasitas diri dan motivasi. Pada bulan Agustus lalu, Alhamdulillah, saya berkesempatan untuk menghadiri sebuah forum, “New Leader for Health”, di Manila Philippines. Pada saat yang hampir bersamaan, saya awalnya juga diminta untuk menjadi fasilitator dalam sebuah acara forum pemuda Asia Pasific yang lebih menitik beratkan pada diplomacy dan dan isu-isu social lainnya, di Rusia. Namun, karena jatah libur yang terbatas :( dan belum berkeinginan untuk ke Rusia lagi dalam waktu dekat, so I think, my next stop is Philippines.  Rasanya, semenjak lulus, saya hampir tidak pernah lagi terlibat dalam forum-forum ilmiah. Saya rindu itu, saya rindu moment dimana saya bisa mengupgrade diri, mengupgrade ilmu saya. Alhamdulillah, there were a lot of great speakers who inspire youth (esp. me) to be a great leader for health :). I’m so much impressed by the speakers.
New Leader For Health (Pre Forum), Philippines, 2015

      Selain itu, saya juga menyempatkan diri untuk mengisi kesempatan-kesempatan sharing dengan adik-adik tingkat di kampus, entah tentang pemilihan MAPRES, kepenulisan ilmiah, maupun forum sharing ringan lainnya. Saya bersyukur, jika apa yang saya sampaikan dapat menjadi motivasi dan pembelajaran untuk adik-adik saya. Terlebih saya bersyukur, karena dengan kesempatan ini pula, disadari atau tidak, saya lah yang banyak mendapat manfaat dan pembelajaran, belajar untuk berkontemplasi dan mengevaluasi diri, agar esok dan seterusnya bisa berbenah menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih sukses di mata Allah :). Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin.
When it was dark now there's light
Where there was pain now's there's joy
Let the rain come down and wash away my tears
Let it fill my soul and drown my fears
Let it shatter the walls for a new sun
A new day has come” – A new day has come, Celline Dion, my favorite lyrics


               



Minggu, 21 Juni 2015

DREAM YOUR BIGGEST DREAM :)

Dream
The Path Album - by: RAEF


I've been dreaming of this world 
Won't you come along and dream with me?
It's picture-perfect in my mind 
Oh how I wish it would be real, oh real 
No one living on the streets or digging for a bite to eat,
And pain and hunger are nothing, nothing but a memory 
Let's dream to make it real
 
Dream your biggest dream
If we dream enough together we can make it real
And lend a helping hand 
What we keep won’t mean anything, once we're gone

No abandoned women, struggling hard trying to make ends meet 
No more missing fathers for their sons to be left all alone crying 
Elders and children are all cared for lovingly 
No one falling through the cracks of government bureaucracy
Let's dream to make it real

Too many times I've walked through these streets

Wondering where we went wrong 
Our hands alone can feel so helpless and weak
But surely with yours they’ll be strong
Our problems and fears will soon disappear
If we try hard enough they’ll all be gone
Brothers and sisters, it takes each of us
Together we can overcome!
We shall overcome

Minggu, 19 April 2015

"Beda masa beda cerita! Mungkin, kita tidak bisa mengulang cerita yang sama, namun kita selalu punya pilihan untuk membuat cerita baru yang lebih bermakna."

Sabtu, 04 April 2015

Sebuah Refleksi di Masa Transisi (Part 1)




“Apa kabar? // Gmn pasca kampusnya? // Kok udah lama ga nulis lagi di blog? Padahal, kalau nulis di blog, trus suatu saat di baca lagi, pasti seolah-olah kita tidak percaya bahwa kita telah melewati hal-hal yg kita tulis itu”
Yap, benar, sudah lama rasanya saya membiarkan canvas online ini berdebu. Terima kasih, untuk teman-teman saya yang telah mengingatkan dan memotivasi saya untuk menulis lagi. Saya ingin kembali berbagi, tentang sekilas memori sebuah masa transisi, bernama pasca kampus. 
Bagi Anda yang baru lulus kuliah, frequently asked question yang sering Anda dapatkan dari teman, dosen, guru, tetangga ataupun famili Anda adalah tidak jauh-jauh dari pertanyaan seputar pekerjaan Anda, rencana lanjut sekolah, (atau juga mungkin) rencana menikah. Berbagai tanggapan, saran, dan komentar, kadang-kadang membuat kita semakin yakin atau malah semakin ragu dengan rencana yang kita buat. Ada yang menyarankan lebih baik mencari pengalaman kerja dulu sehingga ketika kuliah bisa lebih memantapkan diri (matang) dengan tujuan profesional kita, karena pada dasarnya belum tentu keadaan real di dunia kerja sama dengan teori yang kita pelajari di masa kuliah. Namun, juga tidak sedikit yang mendukung rencana untuk sesegera mungkin langsung melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Tidak bisa dipungkiri, masa transisi ini adalah masa yang cukup membingungkan, penuh banyak pertimbangan dan kegalauan. Karena satu dan lain hal, akhirnya saya memutuskan untuk mencari pengalaman kerja dulu sebelum melanjutkan kuliah lagi.  
Beberapa minggu sebelum lulus kuliah hingga 3 bulan setelah wisuda, saya masih banyak berkecimpung dengan dunia kampus, karena saat itu saya diminta untuk membantu proyek dosen saya di kampus. Pengalaman membantu proyek dosen di kampus membuat saya semakin yakin bahwa tujuan profesional saya adalah menjadi seorang akademisi. Bagi saya, dunia kampus adalah tempat paling ideal untuk saya berkembang dan sekaligus berkontribusi. Mengajar bukan sekedar mentransfer materi core competency, lebih dari itu, memberi teladan, inspirasi, dan motivasi adalah tanggung jawab seorang pendidik (akademisi). Dan menjadi pendidik (guru/dosen) adalah cita-cita yang terpatri dalam diri saya sejak kecil. Semoga rencana saya sejalan dengan rencana terbaik yang telah ditetapkanNya, Amiin!
Selama 3 bulan menjalani proyek tersebut, saya masih sempat untuk memanage waktu untuk sekedar berbagi dan mengisi acara-acara seminar, drilling, mentoring, maupun sekedar sharing informal dengan adik-adik tingkat saya di kampus. Berbagi tidak melulu tentang materi, selagi masih bisa dan mampu, berbagilah dengan apa yang kita punya, entah ilmu, pengalaman, semangat dan inspirasi. Salah satu profesor saya pernah berkata, kunci agar ilmu bertambah adalah berbagilah! Karena tiap kali kita berbagi, tiap itulah kita akan “mau tidak mau” harus mengingat kembali ilmu yang mungkin sudah kita lupa, atau minimal kita akan termotivasi untuk mengetahui/memahami lebih banyak lagi.
Tiga bulan adalah waktu yang singkat untuk berlalu. Hingga berakhirlah masa kontrak kerja untuk proyek itu. Kemudian, berbagai informasi lowongan kerja dari berbagai milist, media sosial, dll bermunculan di email saya. Terbersit untuk sekedar melihat atau mengecek, barangkali ada lowongan pekerjaan yang sesuai dengan minat saya. Akhirnya, saya tertarik untuk melamar pekerjaan pada sebuah program kemitraan antara pemerintah Australia dengan pemerintah Indonesia. Saat itu, terbuka lowongan pekerjaan untuk posisi General Public Health Specialist, dengan berbagai position based, diantaranya adalah di Surabaya, Sampang, dan Bangkalan. Yap, that’s in my home province!
Saya berpikir bahwa tidak ada salahnya saya mencari pengalaman kerja di luar kampus dulu, mumpung masih freshgraduate, cari pengalaman sebanyak-banyaknya, lalu pastikan dan temukan apa yang benar-benar menjadi minat diri! Apakah benar, yang saya tuju adalah dunia akademisi (dosen), ataukah birokrasi (a.k.a public sector), atau mungkin NGO? Dan apakah passion saya benar di environmental health? *membatin, berkontemplasi pada diri sendiri*
Well, I decide to find a short term job, while preparing for school application. Oleh karena itu, saya sama sekali tidak melamar untuk menjadi karyawan tetap ataupun CPNS, karena saya tahu konsekuensinya.
Saya memantapkan diri untuk melamar pada lowongan pekerjaan di program tersebut. Saya melengkapi segala persyaratan administrasi yang diminta, termasuk CV dan nama pemberi rekomendasi (3 referee). Sambil lalu menunggu pengumuman, saya mengisi waktu saya untuk magang di sebuah kantor pemerintahan (masih pada sektor kesehatan, khususnya alat kesehatan). Saya merasa sangat tenang dan adem untuk bekerja di sini, selain karena orang-orang di kantor ini begitu ramah dan baik, atmosfer untuk beribadah dan mengejar salat berjamaah tepat waktu juga sangat kondusif, Alhamdulillah ‘Ala Kulli Hal! Saya sangat berterima kasih atas segala kesempatan yang diberi.
Singkat cerita, saya dipanggil untuk wawancara kerja di lowongan pekerjaan yang saya lamar tersebut. Saya ditawari untuk posisi technical staff (researcher) – Health Technology Assessment, di Jakarta. Setelah melewati serangkaian proses perekrutan tersebut, akhirnya beberapa hari setelahnya, ada notifikasi (letter of offer) di email saya:
Mungkin melalui ini, Allah memberi saya kesempatan, untuk bisa jadi lebih melek lagi dengan teknologi (teknologi kesehatan khususnya). Dan yang terpenting, karena saya memang sangat berminat untuk berkecimpung di dunia penelitian (my dream career is to lecture and research, both within the field of health). Kesempatan ini membuat saya bisa belajar lebih awal mengenai suatu metode riset yang sebelumnya memang tidak pernah saya pelajari di bangku kuliah (karena setahu saya, metode systematic review-meta analysis memang belum diajarkan pada mahasiswa jenjang sarjana di FKMUI). Saya ingin belajar, benar-benar ingin belajar, agar saya bisa optimal dalam berkontribusi. Semoga Allah memampukan dan menguatkan pundak ini untuk bisa amanah. Amin ya Rabbal ‘Alamin. 
*To be continued! (insyaAllah)*

Sabtu, 13 Desember 2014

Granting 2nd & 3rd Year Schoolarship YBM for UI Students

We all know that one of the big challenge to pursue higher education is financial problem. I Thank to Marubeni which makes us one step closer with our dream. :)

https://www.youtube.com/watch?v=DHs9tYIxpD8

https://www.youtube.com/watch?v=ndn1ry_h_6Q



Sabtu, 15 November 2014

Menjadi Seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat: Why Not?



Manusia selalu mendapati dirinya berada di persimpangan,
Maka dari itu,
Hidup memang adalah tentang pilihan.
Jalan mana yg hendak dan telah engkau pilih?



“Kesehatan Masyarakat (KesMas)?Kerjanya di Puskesmas ya? Kenapa ga sekalian kedokteran saja? Kamu kan pintar!”.
            Terdengar selentingan komentar dari seorang tetangga di kampung ketika pertama kali mengetahui tentang pilihan jurusan yang saya pilih dalam akun PPKB UI (salah satu jalur masuk di UI, sejenis PMDK). Awalnya pun terbesit anggapan seperti itu dalam benak saya, ketika saya masih belum tau ranah Kesehatan Masayarakat secara mendalam. Namun, waktu itu saya percaya bahwa saran orang tua saya (baca:ayah) untuk memilih FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat) bukanlah saran yang serta merta tanpa alasan yang jelas. Karena saya yakin, setiap orang tua selalu  menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.
            Benar, tak kenal maka tak sayang. Setelah saya mencari informasi mendalam tentang apa itu Fakultas Kesehatan Masyarakat, dimanakah ranah kerjanya, dimanakah peran serta dan urgensinya dalam menyehatkan masyarakat, terbentuklah mindset baru dalam diri saya tentang FKM. Fakultas Kesehatan Masyarakat adalah pilihan fakultas yang prospektif, ranah kesempatan bekerja dan berkontribusi yang begitu luas (tidak hanya di puskesmas saja, tetapi juga di rumah sakit, Depkes, WHO, lembaga-lembaga penilitian, Dosen, Askes, LIPI, UNESCO, Kementrian lingkungan hidup, Kementrian Pemberdayaan Perempuan, LSM dan banyak lainnya yang tidak bisa disebutkan satu-persatu).
Selain itu, masalah kesehatan masyarakat masih menjadi momok di negara kita. Persoalan kesehatan tidak hanya masalah tentang rumah sakit atau pelayanan kesehatan dan orang sakit”, tetapi persoalan kesehatan menyangkut hal-hal yang lebih luas dari itu, misalnya masalah polusi, sanitasi, global warming, sampah yang semakin membludak, malnutrition, penyakit menular dan tidak menular, dan lain-lain. Lulusan Kesehatan masyarakat sebagai tenaga kesehatan yang bergerak dalam ranah preventif dan promotif, memiliki amanah mulia, yakni mencegah (prevent) dan meminimalisir resiko persoalan kesehatan tersebut berkembang di masyarakat. Menurut bapak Kesehatan Masyarakat, Winslow, lulusan Kesehatan Masyarakatlah yang mempunyai ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan spiritual melalui upaya pengorganisasian masyarakat, dengan upaya sanitasi lingkungan, pemberantasan penyakit menular, pendidikan kesehatan individu dan masyarakat, pengorganisasian pelayanan medis dan keperawatan, serta pengorganisasian sosial yang menjamin bahwa setiap individu memiliki standard hidup yang layak. Sehingga dapat dipahami bahwa di tangan lulusan Kesehatan Masyarakat lah fungsi Assesmen, Pengembangan Kebijakan kesehatan, dan Asuran kesehatan dijalankan.
            Walhasil, setelah menempuh pendidikan di fakultas ini, saya merasakan bahwa, inilah atmosfir pendidikan yang sesuai dengan kapabilitas saya. Perpaduan ilmu science (alam) dengan ilmu sosial, dilengkapi dengan berbagai sarana pengembangan diri, serta dosen yang begitu mengayomi dan menginspirasi, menguatkan pilihan saya untuk tetap bertahan di fakultas tercinta, FKM Universitas terbaik di negeri ini, FKM UI.
            Fakultas kesehatan masyarakat Universitas Indonesia memberikan saya banyak hal berharga, tak hanya kesempatan untuk menimbah ilmu di bidang kesehatan masyarakat (hardskill), namun terlebih sering memberikan ruang bagi saya untuk bisa mengasah softskill. Di kampus ungu ini pula, satu persatu mimpi-mimpi saya bisa terealisasi. Dan di kampus ini pula, saya (ternyata) semakin bisa memahami diri saya, menemukan kehidupan yang semakin membuat saya mengenal Tuhan saya. The last but not at least, di kampus ungu ini, saya memahami betul bahwa “Health is not everything, but everything is nothing without health, and public health is an art and science for a healthier world, so that’s why I love PUBLIC HEALTH”.